Komisi IV DPRD Sumenep Minta Usut Tuntas, Misteri Lahiran Normal Ibu Beserta Bayinya Berujung Maut di Meja Periksa Bidan

  • Whatsapp

Sumenep, dialektika.news – Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, meminta Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep usut tuntas kasus lahiran normal berujung maut bayi beserta ibunya.

Untuk mendalami peristiwa tersebut, Komisi IV DPRD Sumenep, untuk mengorek keterangan dan ingin menyerap informasi dari berbagai pihak agar menjadi bahan evaluasi dan perhatian dari anggota dewan, mengingat kejadian itu menyangkut keselamatan jiwa ibu yang hendak melahirkan untuk mendapat pertolongan medis.

Bacaan Lainnya

Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Dr.H.M. Asy’ari Muthhar, M.Fil.I mengatakan, pihaknya untuk mengetahui secara detail kronologis kejadian Ibu Selfi Wilda melahirkan di tempat praktek Bidan berinisial R, bagaimana pemantauan kondisi pasien dilakukan, serta kapan dan bagaimana mekanisme rujukan pasien ke RS Esto Ebu diambil.

“Kami ingin mengetahui dan perlu mendalami bagaimana kejadian yang sesungguhnya kasus tersebut. Mulai dari saat pasien yang harus melahirkan di ruang praktik bidan, bagaimana pemantauan kondisi pasien, serta protokol apa yang diterapkan saat komplikasi terjadi,” jelas Asy’ari. Senin, (17/11/2025).

Menurutnya, persoalan ini harus diusut tuntas agar tidak terulang kembali, pihak rumah sakit harus bisa menjelaskan persoalannya agar pihak keluarga mengerti, dan meminta Dinkes untuk memproses masalah tersebut secara serius.

Sebelumnya, Sefti Wilda (20), ibu muda asal Desa Tengiden, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Jumat pagi (14/11/2025) datang penuh harap, ke tempat praktik Bidan berinisial R di Jalan Trunojoyo X/2, Desa Kolor. Ia ingin melahirkan anak pertamanya. Yang ia dapat kematian bayi di meja periksa Bidan, dan nyawanya sendiri melayang 24 jam kemudian di RS Esto Ebhu Sumenep.

Bayinya terlahir mati dalam kondisi membiru. Kondisi bayi tersebut terlahir membiru dengan kepala terjepit di selangkangan ibu. Satu hari kemudian, sang ibu menghembuskan napas terakhir di RS Esto Ebhu Sumenep.

Sore harinya, Sefti Wilda dalam kondisi kritis dirujuk ke RS Esto Ebhu. Sabtu pagi, 15 November 2025, napasnya berhenti. Dua nyawa melayang, tapi tak satu pun pihak terkait berani bicara. Sikap menghindar ini menimbulkan pertanyaan apa yang sebenarnya disembunyikan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Dinas Kesehatan, Bidan R, RS Esto Ebhu, serta Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Sumenep. (RID)

Pos terkait